Saturday, May 28, 2016

Firasat Sebelum Terjadi Gempa Jogja 10 Tahun Yang Lalu

Inilah firasat sebelum terjadi gempa jogja 27 Mei 2006, Gempa besar di Bantul dan Kota jogja 27 Mei 2006, Memperingati Gempa Jogja 27 Mei 2006
Gempa Bantul - Jogja 27 Mei 2006
Tidak tahu mengapa semalam tidak bisa tidur, saya coba untuk tiduran dikursi tapi sebentar-sebentar terbangun (ngliler=bahasa jawanya), baru setelah menjelang pagi abis subuh dapat tertidur itupun sebentar. Saya pikir-pikir ada apa ya, saya coba ingat-ingat tapi sepertinya tidak ketemu jawabannya; biasanya kalo seperti ini akan terjadi sesuatu tapi apa tidak ketemu jawabannya. Sampai tadi sore jam 5 an tidak sengaja ada judul video disebuah portal berita di hp android saya ada teks berjalan "...10 Tahun Gempa Jogja...".
Tersentak aku.. Saya baru sadar, jadi ini to jawabannya kenapa semalam saya tidak bisa tidur. Langsung saya tulis di web saya ini untuk membagikan peristiwa mengerikan yang saya, kami warga Jogja alami untuk sekedar share berbagi kepada anda diluar DI Yogyakarta yang tidak mengalami dan merasakan langsung, bukan untuk dikasihani tapi untuk pengingat saja, bahwa musibah gempa bisa terjadi dimana saja selama kita hidup diatas bumi ini. Kami tidak bermaksud mengingat peristiwa itu, dan tak terasa sudah berjalan 10 tahun yang lalu, tapi kami tidak bisa melupakan trauma itu.

10 tahun yang lalu....kisah ini bermula:
10 tahun yang lalu sehari sebelum terjadi gempa Jogja 27 Mei 2006, yaitu Jumat tanggal 26 Mei 2006, kami mendapat berita lelayu dari keluarga budhe istri saya di Sragen bahwa Budhe istri saya sedha (wafat). Setelah tutup toko, selepas magrib saya dan istri berangkat ke Sragen untuk melayat budhe istri saya dan sampai di rumah duka sekitar jam 21.00 malam, Setelah ketemu dengan keluarga budhe istri saya dan keluarga besar istri saya, entah mengapa rasanya saya pingin sekali segera pulang dan sekitar tengah malam jam 02.00 dini hari kami pamitan untuk segera pulang,  sebenarnya kami ditahan oleh keluarga budhe untuk tidak pulang malam-malam karena tahu saya belum tidur mereka kuatir kalau saya ngantuk dijalan. Kami tetap ngotot untuk pulang dengan alasan anak-anak di rumah sendirian dan besok harus masuk sekolah nanti tidak ada yang antar sekolah kalau kami tidak segera pulang; akhirnya kami diijinkan untuk pulang berdua saya dan istri saya.

Diperjalanan terasa sunyi sekali dan ada rasa yang aneh tapi tidak tahu aneh apanya. Sesampai di Klaten dan mulai keluar kota Klaten menuju Jogja istri saya nyeletuk dari samping saya memecah kesunyian malam dini hari.
" Mas-mas...!" kata istri saya jawil saya setelah dia bangun dari tidurnya selepas dari kota Sragen dia tertidur.
"Ono opo.." jawabku sambil tetap menyetir dan  melihat kedepan tanpa menegok ke istri saya.
" Rasanya...kok aneh dan sepi sekali...." kata istri saya
" Yo, sepi wong wis bengi dik..." jawabku ketus karena capek
" Tapi...rasane kok koyo mambu amis ya mas...?" tanya istriku
" Amis opo...ora ono opo-opo.." kataku.
Tapi dalam hati aku juga merasakan apa yang dirasakan oleh istriku, ternyata insting atau perasaan kami sama, (karena sering tirakat bareng kali ya). saya cuma diam tidak mau berkomentar; kami berdua diam tanpa berkata apa-apa sampai akhirnya kami tiba dirumah sekitar jam 04.50 lebih hampir jam 5 pagi,

Sampai rumah, aku duduk dikursi tamu dekat pintu sambil tidur dikursi sebentar, karena saya pinkir sebentar lagi mau antar anak-anakku ke sekolah di Sapen. Terdengar lamat-lamat suara istriku yang menyuruh anak-anak supaya cepat mandi, ganti baju dan sarapan, tapi sepertinya anak laki-lakiku ini lelet ogah-ogahan tidak seperti biasanya. Terdengar suara istriku agak keras memarahi anakku yang gak mau pakai baju sekolah "Cepat pake baju...sebentar lagi jam enaaammm...! kata istriku pada anak lakinya dengan nada yang tinggi.
Tiba-tiba ...terdengar teriakan istri saya " Ono lindu...linduu...pa pa...ono Linduuu...!" Aku tersentak kaget mendengar teriakan istri dan seisi rumah, untuk saya tiduran dikursi dekat pintu jadi bisa langsung keluar, aku buka pintu keluar dan mengendong anak lakiku yang masih TK dan keluar ruamah dan ternyata tetangga juga pada teriak-teriak keluar rumah.

Tiba-tiba bumi bergetar,  karena diperumahan satu baris ada 10 rumah genteng atap rumah bergerak seperti ombak banyu. Saya melihat ketanah ada retakan tanah yang berjalan pas ditengah kaki saya retakan tanah itu gerjalan seperti ular membelah tembok rumah saya, kebetulah rumah saya ada dua kapling jadi satu. Sambil mengendong sikecil dan tangan kanan memegang anak perempuanku yang masih SMP. dan istriku yang memeluk sambil menangis, rasanya dunia ini sudah kiamat, sepertinya kami sudah tamat...hanya teriakan-teriakan kami dan tetangga ..Allahhu Akbar...Allahu Akbar...!
Dalam hati kami berdoa, Ya Allah...lindungilah kami dan berilah kami kesempatan untuk hidup, kami akan berbuat baik, banyak membantu orang, walau cuma dengan kata dan tulisan dan sedikit harta kami.

Itulah detik-detik yang kami alami saat terjadi Gempa Jogja, kebetulan kami tinggal di Bantul daerah pusat gempa banyak tetangga kami yang jadi korban dan tak terhitung rumah-rumah yang hancur. Gempa yang terjadi pada hari Sabtu Wage tanggal 27 Mei 2006, pusat gempa berada di Bantul tepatnya 8.03 LS dan 110,32 BT pada kedalaman 11,3 Km dan kekuatan 5.9 SR Mb (Magnitude Body) kurang lebih pukul 05.55 wib walau cuma 57 detik, tapi bagi kami itu musibah terlama dan terbesar yang kami rasakan dan alami, yang menyadarkan kami bahwa manusia tidak ada apa-apanya.  Hanya dengan tiupan 57 detik semua rata dengan tanah. Yang kaya yang miskin semua rumahnya rata dengan tanah. Saudara kami yang masih balita, adik, kakak saudara-saudara kami tua muda tidak dapat menghindar sedetikpun dari reruntuhan bangunan, ada 6.000 lebih saudara kami semua diambil kembali oleh Nya. Harta tahta kedudukan dan bahkan nyawa kalau Tuhan berkehendak hanya dalam hitungan detik semua lenyap.


Banyak hikmah yang dapat kami ambil dari kejadian gempa jogja ini, Kami bersyukur diberikan kesempatan hidup sampai saat ini, kami bersyukur diberi firasat untuk segera pulang ke Jogja  dari Sragen. Ternyata ini firasat kami rasakan malam sebelum terjadi gempa di Sragen untuk segera pulang, Kalau tidak, kami tidak tahu gimana nasib anak-anak kami yang masih kecil. Kami baru sadar sekarang, kalau anak-anakku pada tidak malas dan langsung ganti baju mungkin waktu itu saya atau istri saya mengantar ke sekolah pakai motor karena biasayanya jam enam kurang lima belas menit atau enam kurang sepuluh menit kami sudah dijalan mengantar anak sekolah bisa jadi korbannya, karena waktu gempa ternyata banyak korban dijalanan karena pass jam sibuk antar sekolah atau pergi kerja yang tempatnya di Bantul ke kota Jogja jadi harus brangkat lebih pagi, tenyata anak yang lelet ganti baju itulah yang menyelamatkan kami. Dengan kami pulang kami dapat menyelamatkan dan mengeluarkan anak-anak kami, ibu mertua, saudara-saudara dan pembantu kami dari dalam rumah, karena semua terjadi dalam hitungan detik dan disaat banyak orang masih lelap tidur, kami dibuat tidak bisa tidur seperti yang saya rasakan tadi malam sama seperti 10 tahun yang lalu saat terjadi gempa Jogja. Mudah-mudahan kami tetap dalam lindunganmu ya Allah. 

Artikel selanjutnya tentang Firasat Terjadinya Gempa/ Alamate Lindhu