Monday, August 11, 2014

Laku Ritual Pembuatan Batik

Laku Ritual Pembuatan Batik


Laku ritual pembuatan batik tulis, Asal mula motif batik dibuat, Laku Ritual untuk menciptakan motif batik jogja soloLaku ritual pembuatan Batik. Tahukah Anda bahwa, sebagai pusaka warisan leluhur; proses pembuatan kain batik pada zaman dulu memang tidak sembarangan asal buat, karena dilakukan dengan melibatkan seluruh indera rasa. Konon, pada masa kerajaan mataram, tak jarang untuk membuat selembar kain batik harus melalui serangkaian ritual, seperti puasa dan bersemedi.

Menurut Wakil Pengageng Sasono Wilopo Keraton Surakarta, Kanjeng Raden Arya Winarno Kusuma. “Pada zaman Raja Paku Buwono III atau PB III, mori atau kain yang akan dibatik harus direndam dulu selama 40 hari 40 malam. Jadi, membuat batik itu tidak asal jadi karena ada serangkaian ritual yang harus dilakukan agar auranya keluar,” kata  Laku ini, lanjut Winarno, dilakukan untuk mendapatkan ilham dalam menciptakan motif batik. Dari laku seperti inilah kenapa motif batikdiyakini mengandung filosofi bagi pemakainya.

Motif Parang Rusak misalnya. Motif ini diciptakan oleh Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram. Konon, sang raja sering bertapa di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa yang dipenuhi oleh jajaran pegunungan seribu yang terlihat seperti pereng (tebing) berbaris. Akhirnya, ia menamai tempat bertapanya dengan pereng yang kemudian berubah menjadi parang. Di salah satu tempatbertapa tersebut, ada bagian yang terdiri dari tebing-tebing atau pereng yang rusak karena terkikis deburan ombak laut selatan, sehingga lahirlah ilham untuk menciptakan motif batik yang kemudian diberi nama Parang Rusak.

Kemudian motif Parang Rusak Barong. Motif ini diciptakan Sultan AgungHanyakrakusuma yang ingin mengekspresikan pengalaman jiwanya sebagai raja dengan segala tugas kewajibannya, dan kesadaran sebagai seorang manusia yang kecil di hadapan Sang Maha Pencipta. Kata barong berarti sesuatu yang besar, dan ini tercermin pada besarnya ukuran motif tersebut pada kain. Motif Parang Rusak Barong ini merupakan induk dari semua motif parang. Pada zaman dulu, motif barong hanya boleh dikenakan oleh seorang raja. Motif ini mempunyai makna agar seorang raja selalu hati-hati dan dapat mengendalikan diri. Motif parang sendiri mengalami perkembangan dan memunculkan motif-motif lain seperti Parang Rusak Barong, Parang Kusuma, Parang Pamo, Parang Klithik, dan Lereng Sobrah. Karena penciptanya pendiri Kerajaan Mataram, maka oleh kerajaan, motif-motif parang tersebut hanya diperkenankan dipakai oleh raja dan keturunannya, dan tidak boleh dipakai oleh rakyat biasa. Jenis batik itu kemudian dimasukkan sebagai kelompok batik larangan (batik yang tidak boleh dipakai oleh rakyat jelata)

Memang, garis-garis lengkung pada motif parang sering diartikan sebagai ombak lautan yang menjadi pusat tenaga alam (raja). Komposisi miring pada parang juga melambangkan kekuasaan, kewibawaan, kebesaran, dan gerak cepat, sehingga pemakainya diharapkan dapat sigap dan sekatan.
Pada zaman Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, motif parang menjadi pedoman utama untuk menentukan derajat kebangsawanan seseorang dan menjadi ketentuan yang termuat dalam Pranatan Dalem Jenenge Panganggo Keprabon Ing Karaton Nagari Ngajogjakarta tahun 1927. Selain motif Parang Rusak Barong, motif batik larangan pada lainnya adalah adalah motif Semen, Udan Liris, Sawat danCemungkiran.

Namun seiring dengan perkembangan zaman, penerapan batik larangan sudah tidak sekuat dulu lagi. Bahkan motif-motif tersebut sekarang sudah banyak dikenakan masyarakat di luar tembok keraton, alias sudah dipakai oleh masyarakat umum.

Sumber:
http://kabarsoloraya.com/2009/06/27/membaca-filosofi-motif-batik/ 
http://www.tokobatikjogja.com


Artikel lain yang berhubungan:
1. Motif Batik Truntum
2. Rahasia puasa orang jawa


Tag: laku ritual batik tulis, batik motif parang, batik keraton solo, batik keraton jogja, batik larangan, batik motif semen, batik motif udan lirin, batik motif sawat, batik motif cemungkitan, primbon laku puasa dan semedi, batik zaman sri sultan hamengkubuwono VIII, batik zaman pakubuwono III, batik panembahan senopati, batik sultan agung hanyakrakusuma, batik motif parang rusak, batik motif Parang Kusuma, batik motif Parang Pamo, batik motif Parang Klithik, dan batik motif Lereng Sobrah