Friday, August 29, 2014


III. MANGSA KATELU (26 Agustus - 18 September)

Pekerjaan yang ideal utk Mangsa Katelu, Karier yang ideal untuk Mangsa Katelu 26 Agustus -18 September, Primbon berdasarkan hari kelahiran Mangsa Katelu 26 Agustus -18 SeptemberBagi orang yang terlahir pada Mangsa Katelu untuk menentukan pilihan pekerjaan yang cocok baginya, menurut Pakar Horoskop Jawa haruslah diketahui terlebih dahulu Hari Kelahiran orang itu. Kemudian dilakukan pengelompokan hari lahir tadi menjadi 3 (Tiga) Kelompok. Sebabnya diadakan pengelompokan itu, karena hari satu dengan lainnya mempunyai perbedaan karakter hari. Maka setelah diteliti lebih mendalam dan memakan waktu yang cukup lama, terdapatlah 3 (Tiga) kelompok karakter hari. Adapun kelompok-kelompok itu adalah sebagai berikut: 

Eka - Kelompok I : Mereka yang telahir pada hari Minggu, Hari Rabu dan Hari Jumat. Mereka ini adalah orang-orang yang mengutamakan harga diri, kesucian dan disiplin, tanpa menonjolkan diri. Maka pekerjaan yang paling cocok adalah sebagai Wartawan. Walaupun begitu tidak tertutup kemungkinan lain, ialah sebagai Pelukis, Pemahat atau Pengarang. Juga dalam bidang Kerohanian mempunyai kesempatan juga, ialah sebagai Mubalig, Pendeta atau penyebar ajaran-ajaran Keagamaan dan Spiritual. Tetapi yang paling mengangkat kariernya adalah pekerjaan di bidang komunikasi atau sebagai Wartawan

Dwi - Kelompok II : Mereka yang terlahir pada hari Senin. Mereka ini adalah orang yang mengutamakan keuntungan Materi (Uang) walaupun dia adalah orang Katelu, tetapi pengaruh hari Senin yang materistis itu, maka pekerjaan yang cocok adalah sebagai Pedagang. Dagang barang-barang Elektro, Kulkas, Televisi, Radio, Video juga Mobil, Sepeda Motor, bahkan Traktor. Atau menjadi Pegawai dan digaji orang. Dan dapat juga menjadi Pedagang Obat-obatan, Apoteker dan Pengacara. Yang paling cocok baik untuk pekerjaan dan karier adalah sebagai Pengacara atau Pembela Perkara. 

Tri - Kelompok III : Mereka yang terlahir pada hari Selasa, Kamis dan Sabtu. Mereka ini adalah orang-orang yang bersifat keras dan berani, walaupun itu bukan karakter utama orang Katelu yang pemalu dan pendiam. Tetapi harus diingat juga bahwa didalam diri orang Katelu yang terdalam memiliki jiwa yang lincah, ramah dan berani. Pekerjaan yang cocok untuk mereka yang termasuk pada kelompok ini adalah sebagai Pedagang Keliling, Biro-biro Jasa dan Perjalanan, Pegawai Perpustakaan, Rumah Sakit, membuka Persewaan Buku/Perpustakaan dan Percetakan serta Penerbitan. Tetapi pekerjaan yang paling cocok baik untuk pekerjaannya maupun kariernya adalah menjadi Penerbit dan Percetakan.

Artikel lain yang berhubungan:
1. Mangsa Karo 3 Agustus - 25 Agustus
2. Primbon Ramalah pekerjaan/karier yang ideal
I. MANGSA KASO (Kartika) (23 Juni - 02 Agustus) 
II. MANGSA KARO (Poso) (3 Agustus - 25 Agustus) 
III. MANGSA KATELU (26 Agustus - 18 September) 
IV. MANGSA KAPAT (Sitra) (19 September - 13 Oktober) 
V. MANGSA KALIMA (Maggala) -(14 Oktober - 9 Nopember) 
VI. MANGSA KANEM (Naya) - (10 Nopember - 22 Desember) 
VII. MANGSA KAPITU (Palguna) - (23 Desember - 3 Februari)
VIII. MANGSA KAWOLU (Wasika) - (4/5 Februari - 01 Maret) 
IX. MANGSA KASANGA (Jita) -  (02 Maret - 26 Maret) 
X. MANGSA KASADASA (Srawana) - (27 Maret - 19 April) 
XI. MANGSA DESTA (Pradawana) - (20 April - 12 Mei) 
XII. MANGSA SADDHA (asuji) -  (13 Mei - 22 Juni)
 
Continue reading

Monday, August 11, 2014

Laku Ritual Pembuatan Batik


Laku ritual pembuatan batik tulis, Asal mula motif batik dibuat, Laku Ritual untuk menciptakan motif batik jogja soloLaku ritual pembuatan Batik. Tahukah Anda bahwa, sebagai pusaka warisan leluhur; proses pembuatan kain batik pada zaman dulu memang tidak sembarangan asal buat, karena dilakukan dengan melibatkan seluruh indera rasa. Konon, pada masa kerajaan mataram, tak jarang untuk membuat selembar kain batik harus melalui serangkaian ritual, seperti puasa dan bersemedi.

Menurut Wakil Pengageng Sasono Wilopo Keraton Surakarta, Kanjeng Raden Arya Winarno Kusuma. “Pada zaman Raja Paku Buwono III atau PB III, mori atau kain yang akan dibatik harus direndam dulu selama 40 hari 40 malam. Jadi, membuat batik itu tidak asal jadi karena ada serangkaian ritual yang harus dilakukan agar auranya keluar,” kata  Laku ini, lanjut Winarno, dilakukan untuk mendapatkan ilham dalam menciptakan motif batik. Dari laku seperti inilah kenapa motif batikdiyakini mengandung filosofi bagi pemakainya.

Motif Parang Rusak misalnya. Motif ini diciptakan oleh Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram. Konon, sang raja sering bertapa di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa yang dipenuhi oleh jajaran pegunungan seribu yang terlihat seperti pereng (tebing) berbaris. Akhirnya, ia menamai tempat bertapanya dengan pereng yang kemudian berubah menjadi parang. Di salah satu tempatbertapa tersebut, ada bagian yang terdiri dari tebing-tebing atau pereng yang rusak karena terkikis deburan ombak laut selatan, sehingga lahirlah ilham untuk menciptakan motif batik yang kemudian diberi nama Parang Rusak.

Kemudian motif Parang Rusak Barong. Motif ini diciptakan Sultan AgungHanyakrakusuma yang ingin mengekspresikan pengalaman jiwanya sebagai raja dengan segala tugas kewajibannya, dan kesadaran sebagai seorang manusia yang kecil di hadapan Sang Maha Pencipta. Kata barong berarti sesuatu yang besar, dan ini tercermin pada besarnya ukuran motif tersebut pada kain. Motif Parang Rusak Barong ini merupakan induk dari semua motif parang. Pada zaman dulu, motif barong hanya boleh dikenakan oleh seorang raja. Motif ini mempunyai makna agar seorang raja selalu hati-hati dan dapat mengendalikan diri. Motif parang sendiri mengalami perkembangan dan memunculkan motif-motif lain seperti Parang Rusak Barong, Parang Kusuma, Parang Pamo, Parang Klithik, dan Lereng Sobrah. Karena penciptanya pendiri Kerajaan Mataram, maka oleh kerajaan, motif-motif parang tersebut hanya diperkenankan dipakai oleh raja dan keturunannya, dan tidak boleh dipakai oleh rakyat biasa. Jenis batik itu kemudian dimasukkan sebagai kelompok batik larangan (batik yang tidak boleh dipakai oleh rakyat jelata)

Memang, garis-garis lengkung pada motif parang sering diartikan sebagai ombak lautan yang menjadi pusat tenaga alam (raja). Komposisi miring pada parang juga melambangkan kekuasaan, kewibawaan, kebesaran, dan gerak cepat, sehingga pemakainya diharapkan dapat sigap dan sekatan.
Pada zaman Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, motif parang menjadi pedoman utama untuk menentukan derajat kebangsawanan seseorang dan menjadi ketentuan yang termuat dalam Pranatan Dalem Jenenge Panganggo Keprabon Ing Karaton Nagari Ngajogjakarta tahun 1927. Selain motif Parang Rusak Barong, motif batik larangan pada lainnya adalah adalah motif Semen, Udan Liris, Sawat danCemungkiran.

Namun seiring dengan perkembangan zaman, penerapan batik larangan sudah tidak sekuat dulu lagi. Bahkan motif-motif tersebut sekarang sudah banyak dikenakan masyarakat di luar tembok keraton, alias sudah dipakai oleh masyarakat umum.

Sumber:
http://kabarsoloraya.com/2009/06/27/membaca-filosofi-motif-batik/ 
http://www.tokobatikjogja.com


Artikel lain yang berhubungan:
1. Motif Batik Truntum
2. Rahasia puasa orang jawa


Tag: laku ritual batik tulis, batik motif parang, batik keraton solo, batik keraton jogja, batik larangan, batik motif semen, batik motif udan lirin, batik motif sawat, batik motif cemungkitan, primbon laku puasa dan semedi, batik zaman sri sultan hamengkubuwono VIII, batik zaman pakubuwono III, batik panembahan senopati, batik sultan agung hanyakrakusuma, batik motif parang rusak, batik motif Parang Kusuma, batik motif Parang Pamo, batik motif Parang Klithik, dan batik motif Lereng Sobrah  


Continue reading

Monday, August 4, 2014


Makna dan  Filosofi Batik Motif Truntum
Makna dan filosofi batik motif Truntum, arti dan filosofi batik motif Truntum, Sejarah motif batik truntum
Batik Motif Truntum
1.Hobby yang tidak disengaja.
Beberapa hari yang lalu saat istriku sibuk mengeluarkan kain jarik atau kain batik dari lemari, saat dia bingung mau mencoba beberapa jarik yang dia punya untuk dia kenakan pada acara resepsi pernikahan teman kami di Gedung UGM. Saya tertuju pada sebuah jarik atau kain batik yang bermotif simple sederhana tapi menarik berlatar belakang hitam coklat dengan bertaburan seperti ada bintang dan bunga-bunga abstrak kecil. “Itu batik motif Truntum, dulu dipakai bapak ibu waktu pernikahan kita dulu mas”, kata istriku menjelaskan keinginan tahuku sebelum sempat aku tanyakan. Wow.., bagus juga ya motif batik truntum ini, simple tapi penuk makna. Sejak saat itulah saya mulai jatuh cinta pada seni batik dan hunting serta mengkoleksinya mengikuti hobby istri yang ternyata sudah mengkoleksi batik terlebih dahulu.  


2.Asal mula terciptanya Batik Motif Truntum

Menurut ceritera sejarah, proses penciptaan motif truntum diciptakan oleh Kanjeng Ratu Beruk, anak dari seorang abdi dalem bernama Mbok Wirareja. Kanjeng Ratu Beruk atau Kanjeng Ratu Kencana ini adalah isteri dari Paku Buwono III (bertahta dari 1749–1788 M) tetapi berstatus garwa ampil (selir), bukan permaisuri kerajaan. Persoalan status ini menjadikan Kanjeng Ratu Beruk selalu gundah. Ia mendamba jadi permaisuri kerajaan, sebuah status yang begitu dihormati dan dipuja orang sejagad keraton. Tetapi lebih dari semua itu, Kanjeng Ratu Beruk ingin selalu berada di samping sang raja agar malam-malam sunyi tidak ia lewati sendirian.
Pada suatu malam, perhatian Kanjeng Ratu Beruk tertuju pada indahnya bunga tanjung yang jatuh berguguran di halaman keraton yang berpasir pantai. Seketika itu juga ia mencanting motif truntum dengan latar ireng(hitam). Hal tersebut merupakan refleksi dari sebuah harapan. Walaupun langit malam tiada bulan, masih ada bintang sebagai penerang. Selalu ada kemudahan di setiap kesulitan, sekecil apa pun kesempatan, ia tetap bernama kesempatan.

Ketekunan Ratu dalam membatik menarik perhatian Raja yang kemudian mulai mendekati Ratu untuk melihat pembatikannya. Sejak itu Raja selalu memantau perkembangan pembatikan Sang Ratu, sedikit demi sedikit kasih sayang Raja terhadap Ratu tumbuh kembali. Berkat motif ini cinta raja bersemi kembali atau tum-tum kembali, sehingga motif ini diberi nama Truntum, sebagai lambang cinta Raja yang bersemi kembali.

3. Penggunaan Batik Motif Truntum sekarang.
Motifnya sederhana seperti taburan bunga-bunga abstrak kecil, sepeti kuntum bunga melati, atau seperti bintang yang bertaburan di langit. Batikmotif truntum biasanya dipakai oleh orang tua pengantin pada hari pernikahan. Harapannya adalah agar cinta kasih yang tumaruntum ini akan menghinggapi kedua mempelai. Terkandung makna “ing ngarsa sung tuladha”, orang tua sudah lulus dari ujian cinta kasih, hingga layak dan wajib menuntun kedua mempelai memasuki kehidupan baru. Orang tua mempelai berharap agar cinta kasih yang tumaruntum tersebut akan tumurun kepada mempelai kebanggaannya, perwujudan sikap “tut wuri handayani”. Sebuah rangkaian keteladanan dan doa pengharapan tersimbulkan melalui motif truntum.
Motif truntum juga mengandung makna tumbuh dan berkembang. Demikianlah, orang Jawa selalu mendambakan bagi setiap keluarga baru supaya segera mempunyai keturunan yang akan dapat menggantikan generasi sebelumnya. Generasi baru itulah yang akan menjadi tumpuan setiap keluarga baru yang baru menikah untuk meneruskan segala harapan dan cita-cita keluarga sekaligus sebagai generasi penerus secara biologis yang mewarisi sifat-sifat keturunan dari sebuah keluarga baru. Adapun ragam motif Truntum antara laim: Truntum Ukilo Tawu, Truntum Kunir Pitho, Truntum Bunthel, Truntum Bintang, dan  Truntum Merak
Kain batik tulis tersebut merupakan kain batik tulis asli Jogja, bila Anda berniat untuk melangsukan pernikahan ANda atau menikahkan anak anda dapat dibeli secara online di TOKO BATIK JOGJA.  Semoga bermanfaat

Sumber:
http://www.fitinline.com


Continue reading